Belajar dari Jemari Tangan Kita

Sahabat, kali ini aku tuliskan dan sampaikan ulang tulisan yang tidak ilmiah dan tidak berarti apapun. Hanya sekedar menuliskan apa yang sudah lama berselang jadi bahan obrolan dengan orang tua. Obrolan pengisi rindu kaa bertemu di hari libur dan berkunjung ke kediamannya. Tulisan singkat tentang jemari kita. Jemari yang kita miliki. Jemari yang kita gunakan untuk aktifitas kerja kita sehari-hari. Bukanlah anggota tubuh yang aneh, bukan?

Kita diberi jemari tangan memang untuk membantu kita menjalankan aktivitas harian kita. Ya, cuma itu yang kita peroleh bila kita enggan merenung lebih dalam.

Coba kita tatap kelima jemari dari sebelah tangan kita, lalu sejenak merenung, adakah makna terkandung dari penciptaan jemari ini? Bagaimana bila kita bayangkan kelima jemari itu sebagai lima pilar yang akan menentukan tegak berdirinya satu kaum, satu bangsa, satu negara?
 
Ah mimpi!  Ya, biarlah, untuk situasi dan kondisi seperti sekarang ini, kadang untuk sekedar bermimpi pun kita sudah takut, apalagi kalau kita bertindak lebih jauh lagi, yaitu menuliskan mimpi kita itu.

Mari, aku ajak Anda untuk menuliskan ‘mimpi‘ itu dengan menatap satu-persatu jemari tangan kita…

Pertama, Jempol

Jempol kita bayangkan sebagai kaum agamawan, kaum rohaniawan. Ia menujukkan arah mana yang yang lurus dan benar yang harus dilalui umatnya agar selamat sampai tujuan. Inilah peran yang diharapkan dari mereka, sebagai penunjuk jalan, sebagai penerang dalam gelap-gulitanya malam.

Kedua, Telunjuk

Telunjuk kita bayangkan sebagai pemerintah. Ia yang punya kuasa memerintah. Tentunya memerintah bukan secara otoriter melainkan memerintah dengan cara yang adil dan bijaksana. Yang tak ragu untuk menindak tegas oknum-oknum yang menyeleweng, membela kaum yang lemah. Memerintah dengan adil dan bijaksana tentunya pula dengan berani melepas ‘manis‘-nya madu korupsi yang melekat pada tubuhnya.

Ketiga, Jari Tengah

Jari tengah kita bayangkan sebagai kelompok kaum kaya yang dermawan. Kaya disini bisa diartikan sebagai kaya harta ataupun ilmu. Kekayaannya itu hendaknya berfungsi sosial, dijadikan sebagai alat untuk mensejahterakan kaum marginal, kaum yang terpinggirkan. Kekayaannya digunakan untuk membantu agar kaum marginal tidak semakin dalam terperosok, malah sebaliknya, mengangkat mereka ketempat yang lebih mulia di tengah masyarakat.

Keempat, Jari Manis

Jari Manis kita bayangkan sebagai kaum pemuda. Pepatah yang mengatakan, Pemuda harapan bangsa mengisyaratkan peran mulia yang di emban kaum muda. Diharapkan pemikiran-pemikiran yang segar lahir dari tangan kaum muda. Pemikiran-pemikiran dan karya-karya baru ini diharapkan akan membawa ke masa depan yang lebih baik.

Kelima, Kelingking.

Kelingking adalah jari dengan ukuran terkecil dari jemari! Tapi, tidak demikianlah dengan peran yang diembannya. Kita bayangkan kelingking itu sebagai kaum ibu yang mulia. Dari rahimnya terlahir generasi penerus bangsa. Kaum ibu-lah yang merupakan guru pertama sebelum kita duduk dibangku sekolah. Kaum ibu, kaum wanita karenanya haruslah ber-akhlak mulia. Dapat dibayangkan bagaimana nasib hari esok bangsa jika kaum ibu dan kaum wanita buruk akhlaknya. Bagaimana bisa diharapkan generasi penerus yang berkualitas bila terlahir dari kaum ibu yang ber-akhlak buruk!

Bayangkan kelima kelompok ini berperan optimal pada jalan yang benar, tidak saling ambil peran kelompok lain bahkan tidak saling menjatuhkan. Tentunya efek sinergi yang akan terjadi, bukan?

Maka, bersatulah kelima kelompok itu sehingga kelompok lain yang terbanyak, yang tidak disebut, yaitu kelompok umat (rakyat) dapat di ayomi! Negara kuat dan sejahtera itulah hasil akhir yang moga akan terwujud….

 

Bekasi, 26 Oktober 2010

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s