Kita Dalam Kemelut Sejarah?

Tiba-tiba terkenang majalah lama bernama Prisma. Aku sebut majalah lama karena kalau saat ini majalah tersebut masih terbit aku sudah tidak pernah membelinya lagi. Bagi aku, disebut majalah lama karena ia boleh dibilang sebagai bagian masa lalu aku.

Apapun dengan majalah itu, aku masih ingat salah satu terbitannya yang mengambil judul “Manusia Dalam Kemelut Sejarah”. Terbitan yang ini boleh dibilang istimewa. Karena berisi tulisan-tulisan tentang tokoh-tokoh besar yang mempengaruhi sejarah bangsa kita.

Mengambil intisari dari sejarah tokoh-tokoh yang tertulis dalam terbitan Prisma itu, sejarah seorang manusia tidaklah bergerak dalam derap yang tenang. Ia adalah perjalanan yang bergelora dan penuh dengan pergolakan.

Pergolakan disini lebih ke arah pribadi orang itu sendiri. Amati perjalanan hidup seseorang yang awalnya ditindas dan di kuasai pada akhirnya bisa terlepas dari belenggu. Setelah lepas dari belenggu, ia menjadi penguasa baru dan sekaligus penindas. Atau perjalanan hidup seseorang yang berasal dari tidak dikenal, kemudian ia menjadi terkenal dan dipuja. Atau perjalanan hidup seseorang yang mulanya hanya rakyat jelata, kemudian berubah menjadi penguasa politik ataupun penguasa ekonomi. Atau, perjalanan hidup manusia lainnya yang masih demikan banyak…

Sejarah penuh dengan catatan-catatan seperti yang tertulis di atas. Catatan yang seperti bolak-balik telapak tangan. Catatan yang berisi pengulangan-pengulangan rangkaian kejadian yang mirip tetapi dengan tokoh yang berbeda.

Perjalanan hidup seseorang, walau demikian kecil seseorang itu, tetap merupakan perjalanan sejarah. Yang membedakan disini hanyalah lingkup dan pengaruhnya saja.

Apakah tepat bila perjalanan seseorang yang pada dasarnya penuh pergolakan itu disebut kemelut? Bila jawabannya ya, maka sungguh saat ini, suka atau tidak suka, kita berada dalam kemelut itu…

Antara UKI – Ciawi, 15 Oktober 2010
[send from my mobile phone]

Satu pemikiran pada “Kita Dalam Kemelut Sejarah?

  1. Perjalanan hidup terkadang membawa seseorang masuk ke dalam area yang tidak pernah direncanakan. Bahkan terlintaspun tidak. Mampukah manusia menolak, jika area itu bisa membuat dia bisa bertahan untuk tetap berdiri. Tapi mengapa untuk sekedar merasakan bahwa rasa memiliki itu tetap ada, tidak semua manusia punya keberanian? Layakkah manusia yang disebut saling memiliki dianggap seperti angin lalu? Datang dan pergi tanpa ada jejak?????????

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s