Makna Jemari Kita. Benarkah?

Posted on 10 Januari 2013

27


Abah tercinta...

Abah tercinta…

Malam ini tiba-tiba ingat suatu obrolan saya dengan Abah beberapa waktu lalu. Entah kelakar atau serius Abah bercerita tentang makna jari-jemari tangan kita. Dibilang kelakar, ya karena ceritanya Abah sampaikan sambil bercanda. Dibilang serius, ah ini koq seperti cerita yang bermakna filosofis.

Abah memulai ceritanya dengan pembukaan,  kita diberi jari-jemari tangan memang untuk membantu kita menjalankan aktivitas harian kita. Ya, cuma itu pengetahuan yang kita peroleh bila kita enggan merenung lebih dalam. Maaf saja.

Abah mengajak saya untuk menatap kelima jari disebelah tangan saya. Adakah makna yang lebih dari penciptaan jemari ini? Bagaimana bila kita bayangkan kelima jemari itu sebagai lima pilar yang akan menentukan tegak berdirinya satu kaum, satu bangsa, satu negara? Demikian Abah bertanya.

Mari saya ajak sahabat blogger untuk membuka makna setiap jari kita. Konon, inilah makna yang terkandung dari setiap jari, seperti yang Abah ceritakan kepada saya…

Pertama, Jempol

Jempol dilambangkan sebagai kaum agamawan, kaum rohaniawan. Ia menujukkan arah mana yang yang lurus dan benar yang harus dilalui umatnya agar selamat sampai tujuan. Inilah peran yang diharapkan dari mereka, sebagai penunjuk jalan, sebagai penerang dalam gelap-gulitanya malam.

Kedua, Telunjuk

Telunjuk sebagai perlambang  pemerintahan. Ia yang punya kuasa memerintah. Tentunya memerintah bukan secara otoriter melainkan memerintah dengan cara yang adil dan bijaksana. Yang tak ragu untuk menindak tegas oknum-oknum yang menyeleweng, membela kaum yang lemah. Memerintah dengan adil dan bijaksana tentunya pula dengan berani melepas ‘manis‘-nya madu korupsi yang melekat pada tubuhnya.

Ketiga, Jari Tengah

Jari tengah dilambangkan sebagai kelompok kaum kaya yang dermawan. Kaya disini bisa diartikan sebagai kaya harta ataupun ilmu. Kekayaannya itu hendaknya berfungsi sosial, dijadikan sebagai alat untuk mensejahterakan kaum marginal, kaum yang terpinggirkan. Kekayaannya digunakan untuk membantu agar kaum marginal tidak semakin dalam terperosok, malah sebaliknya, mengangkat mereka ketempat yang lebih mulia di tengah masyarakat.

Keempat, Jari Manis

Jari Manis adalah lambang  kaum pemuda. Pepatah yang mengatakan, Pemuda harapan bangsa mengisyaratkan peran mulia yang di emban kaum muda. Diharapkan pemikiran-pemikiran yang segar lahir dari tangan kaum muda. Pemikiran-pemikiran dan karya-karya baru ini diharapkan akan membawa ke masa depan yang lebih baik.

Kelima, Kelingking.

Kelingking adalah jari dengan ukuran terkecil dari jemari kita. Tapi, tidak demikian dengan peran yang diembannya. Kelingking itu sebagai kaum ibu yang mulia. Dari rahimnya terlahir generasi penerus bangsa. Kaum ibu-lah yang merupakan guru pertama sebelum kita duduk dibangku sekolah. Kaum ibu, kaum wanita karenanya haruslah ber-akhlak mulia. Dapat dibayangkan bagaimana nasib hari esok bangsa jika kaum ibu dan kaum wanita buruk akhlaknya. Bagaimana bisa diharapkan generasi penerus yang berkualitas bila terlahir dari kaum ibu yang ber-akhlak buruk tersebut.

Abah, Ema dan cucu-cucu, sang generasi penerus itu

Abah, Ema dan cucu-cucu, sang generasi penerus itu…

Sekarang bayangkan kelima kelompok ini berperan optimal pada jalan yang benar, tidak saling ambil peran kelompok lain bahkan tidak saling menjatuhkan. Tentunya efek sinergi yang akan terjadi dan negara yang kuat, damai dan sejahtera akanlah terwujud.

Sekedar kelakar atau benarkah bermakna filosofis? Ah, namanya juga Abah selalu ada saja bahan obrolannya yang menarik untuk disimak…

Bekasi, 10 Januari 2013

Ditandai: , , ,
Posted in: Renungan