Sisi Hidupku

My Mobile Diary…

Himbauan Yang Tak (di)Indah(kan)

Saat ini apabila kita jalan-jalan kemanapun, banyaklah akan ditemukan tulisan-tulisan yang bernada himbauan disepanjang jalan yang kita lewati.

Mungkin karena bangsa kita ini bangsa yang “halus” dan “peka”, maka himbauan dirasa cukuplah. Tidak perlu larangan keras disertai dengan denda atas suatu pelanggaran. Cukup hanya dengan himbauan sederhana maka ketertiban yang diharapkan akan segera terwujud.

Sayangnya banyak pula himbauan yang ditulis secara liar. Banyak ditemukan himbauan indah seperti “harap tidak membuang sampah disini”, “harap tidak parkir disini”, yang dituliskan dengan tidak indah. Asal sembarang dituliskan dalam plang seadanya dan plang tersebut diletakan demikian saja, mengabaikan keserasian dengan lingkungan sekitarnya.

Ada contoh himbauan indah, yang dituliskan dalam banner yang indah pula, seperti berikut,

Himbauan Indah Yang Tak Diindahkan...

Himbauan Indah Yang Tak Diindahkan…

Timbul pertanyaan, apakah himbauan indah, seperti foto diatas, diindahkan oleh masyarakat?

Dengan pasti jawabannya adalah “tidak”. Masyarakat pemilik kendaraan tetap saja tidak mengindahkan himbauan tersebut. Ibarat seperti kata pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalau. Tak mengherankan secara berkelakar banyak orang bilang, “dimana bisa ditemukan banyak orang mengantri meminta subsidi setiap hari?” Jawabannya, “ya di pom bensin dong…” Demikianlah yang terjadi dalam keseharian kita.

Mungkin sudah saatnya himbauan indah namun tetap tak diindahkan itu diganti dengan larangan keras disertai dengan denda. Apa boleh buat, demi kemaslahatan bersama, hal itu mungkin harus segara berani diambil.

Ah ya, mungkin…

Bekasi, 13 Desember 2012

Posted from WordPress for BlackBerry.

11 comments on “Himbauan Yang Tak (di)Indah(kan)

  1. Setokdel
    13 Desember 2012

    mungkin budaya membaca kita kurang mas atau malah masih banyak yang buta aksara.. :D

    • Titik Asa
      14 Desember 2012

      Waduh, komen yg menohok. Mungkin juga kali ya masih banyak yg buta aksara…
      Salam,

      • Setokdel
        14 Desember 2012

        sekedar kemungkinan yang kasar saja mas :) salam

  2. pursuingmydream
    14 Desember 2012

    Semuanya tergantung dari kesadaran masyarakat mas :).

    • Titik Asa
      14 Desember 2012

      Nah itu mba, kesadaran masyarakat…
      Salam,

  3. Ni Made Sri Andani
    14 Desember 2012

    Barangkali dibutuhkan kalimat yang lebih jelas dan tegas, jika bahasa sopan dan halus seperti ini tidak cukup ya Pak..

    • Titik Asa
      14 Desember 2012

      Barangkali demikian, mba. Bahasa yg tegas dg semacam ancaman hukuman berupa denda, misalnya…
      Salam,

  4. 'Ne
    14 Desember 2012

    Kalau pribadinya memang sudah sadar ya nggak pake himbauan pun pasti mereka melakukannya..

    • Titik Asa
      15 Desember 2012

      Nah ini mba, kembali ke kesadaran pribadi juga akhirnya. Mungkin stilumus apa yg harus dijalankan agar kesadaran pribadi itu yg kini harus dipikirkan.
      Salam,

  5. lea
    14 Desember 2012

    mungkin “disini” apa2 terbalik mas, kata jangan diliatnya harus, dan sebaliknya :D

    • Titik Asa
      15 Desember 2012

      Hehehe…dipikir-pikir sih mungkin juga ya? Tapi ah masa iya sih mba…
      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Desember 2012 by in Renungan, Serba-serbi and tagged , , , .

Arsip

Rubrik

Kunjungan

  • 109,371 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.939 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: